Disadari atau tidak, seringkali seorang suami merasa lebih baik dalam semua hal dibanding istrinya.
Egoisme suami terkadang lebih dominan menguasai istrinya. Hal itu bisa dilihat dari ketidaksiapan suami saat menerima masukan atau pendapat dari istrinya.
Padahal, di awal si suami yang meminta agar isterinya berpendapat atau memberi masukan atas suatu permasalahan.
Tapi saat istrinya memberi masukan, tak sedikit suami yang tetap kekeuh mempertahankan pendapatnya sendiri. Padahal bisa jadi, pendapat istri jauh lebih baik.
Perilaku suami seperti di atas adalah bagian dari akhlak yang semestinya tidak terjadi. Tak jarang, istri merasa kecewa karena pendapatnya ditolak oleh suami tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
Bahron Anshori mengurai tuntas persoalan ini di lamanmirajnews.com. Diuraikannya, istri adalah wanita yang lemah fisiknya, lembut hati dan jiwanya serta tak senang mendengar kata-kata kasar dari suaminya. Istri adalah seorang wanita yang kesabarannya jauh lebih besar dibanding suami.
Fakta itu bisa dilihat dengan ketulusannya melayani suami dan anak-anaknya di atas kepentingan pribadinya. Karena itu, Allah sangat memuji setiap suami yang mampu memperlakukanistrinya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan pergaulilah istri-istri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. an-Nisaa’: 19).
Betapa mulianya seorang suami yang mampu menggembirakan hati istri walau tidak selamanya dengan materi. Dalam sebuah hadis disebutkan, para suami yang senang menghibur dan membuat gembira istri-istrinya, maka ia mendapat pahala menangis karena takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan iamenangis takut kepada Allah. Siapa yang menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (meremas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya.” [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri].
Subhanallah…betapa besar pahala dari Allah kepada setiap suami yang memperlakukan istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sungguh, betapa besar rahmat Allah Ta’ala yang akan dilimpahkan kepada setiap pasangan suami istri yang menikah karena mengharap ridha dan rahmat Allah semata.
7 Kesalahan Suami
Bila ada seorang istri yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan langsung memvonisnya. Bisa jadi, kemaksiatan yang dilakukan isteri sebagai akibat kelalaian suami dalam membekali isterinya ilmu agama. I
Istri adalah cerminan suami. Artinya, jika istrinya melakukan kesalahan, bisa jadi karena istri tidak mendapatkan pengarahan dan nasihat kebaikan dari suaminya.
Paling tidak, ada 7 kesalahan suami kepada istrinya yang sering tak disadari. Kesalahan-kesalahan itu, antara lain sebagai berikut.
Pertama, Tidak Mengajarkan Ilmu Agama pada Istri
Salah satu bentuk ketidakpedulian seorang suami kepada istrinya adalah tidak mengajarkan ilmu syariat (agama) kepada istrinya. Padahal Allah Ta’ala jauh hari telah mengingatkan agar seorang suami yang nota bene adalah pemimpin dalam rumah tangganya agar tidak hanya memelihara dirinya dari api neraka, tapi jugakeluarga.
Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang–orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat–malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg di perintahkan-Nya kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintakan.” [Qs. At-Tahrim: 6]
Banyak suami yang hanya membekali istri dengan uang bulanan, tapi tidak mengisi kekosongan ilmu dan ruhiyahnya. Padahal di zaman ini, penting untuk membekali diri dan keluarga dengan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Jangan mengira ketika sudah membekali istri dengan materi berupa uang belanja dikira sudah cukup untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.
Kedua, Tidak Mau Membantu Pekerjaan Rumah
Banyak juga suami yang enggan dan gengsi jika harus membantu mencuci piring, menyapu, mencuci baju, menjemur pakaian sekadar membantu isterinya. Padahal jika ditanya siapakah idolanya, maka dengan mantap si suami akan menjawab idolanya adalah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Tapi kenyataannya, sekadar membantu menyenangkan hati isteri dengan meringankan beban kerjanya didapur saja sulit dilakukan. Alasannya itu adalah pekerjaan seorang istri.
Jika mau menghayati tarikh, mara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tipe suami teladan yang gemar membantu isteri-isterinya mengerjakan pekerjaan rumah.
Membantu istri di rumah adalah salah satu dari akhlak mulia dan itu sama sekali tidak merendahkan kedudukan suami, bahkan justru bertambah kemuliaan suami karenanya.
Ketika Aisyah r.a ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumahnya, beliau menjawab, “Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membantu pekerjaan istrinya dan jika datang waktu shalat, maka beliau pun keluar untuk shalat.” [HR. Bukhari]
Ketiga, Membenci Istri
Entah mengapa, seringkali ada suami yang membenci istrinya. Padahal istrinya sudah seharian bersusah payah mengurus keperluan suami dan anak-anaknya. Bukan hanya itu, seorang istri juga biasanya disibukkan dengan membersihkan semua isi rumah agar terlihat bersih dan indah.
Suami yang membenci istrinya adalah suami yang tidak menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam hidupnya.
Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Janganlah seorang suami yang beriman membenciistrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” [HR. Muslim]
Ada pula suami yang justru membenci isteri yang dinikahinya. Mendiamkan isteri, dan memandang semua yang dilakukan isterinya salah. Sungguh ini adalah kesalahan fatal para suami yang tidak bisa bersabar. Jika terus-menerus dibiarkan, akan memperburuk kondisi rumah tangga.
Keempat, Menyebarluaskan Rahasia atau Aib Istri
Tak sedikit suami yang pergaulannya buruk lalu menceritaan aib isterinya sendiri dihadapan teman-temannya seperti membicarakan aktivitas suami-istri sebagai sebuah mainan. Padahal Allah Ta’ala sudah menutup mereka, tapi malah ia buka sendiri.
Allah sangat membenci seorang suami yang menceritakan aibistrinya di hadapan orang lain. Selain itu, ia telah membuat kedudukannya rendah di hadapan Allah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang menggauli istrinya danistrinya menggaulinya kemudian dia menyebarkan rahasia-rahasia istrinya.” [HR. Muslim]
Kelima, Memukul Istri
Para suami dilarang untuk memukul istri, jikalau pun isteri melakukan kesalahan yang melanggar aturan Allah, tetap tidak boleh memukulnya di wajah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya…..” [HR. Ibnu Majah disahihkan oleh Syeikh Albani]
Memukul istri adalah sebuah keburukan bagi seorang suami shalih. Bagaimana mungkin ia tega memukul belahan jiwanya sendiri.
Bagaimana mungkin ia tak takut dihadapan Allah dan Rasulnya kelak jika di akhirat nanti ia diminta pertanggungjawaban atas prilaku kasarnya kepada isterinya.
Keenam, Tidak menafkahi Istri dan Anak
Tidak sedikit suami yang sengaja mengabaikan nafkah untuk isternya. Akibat suami tidak menafkahi isterinya ini, maka tak heran begitu banyak isteri yang memutuskan dengan sengaja untuk keluar rumah mencari nafkah sendiri.
Keluar rumah meninggalkan fitrahnya sebagai ibu rumah tangga. Padahal kehormatan seorang suami dihadapan isterinya adalah karena kegigihannya dalam mencari nafkah untuk isterinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “dan kewajiban ayah ialah memberi makan dan pakaian kepada isterinya itu menurut cara yang sepatutnya. Tidaklah diberatkan seseorang melainkan menurut kemampuannya…” (Qs. Al Baqarah 233)
Ketujuh, Tidak Cemburu
Kesalahan lainnya yang sering tidak diperhatikan adalah, suami tidak merasa cemburu terhadap istrinya. Bahkan di kalangan selebritis, para perempuan bersolek dan cium pipi kanan kiri dengan pria lain (ajnabi) atau fansnya seolah sudah biasa. Padahal prilaku itu adalah prilaku jahiliyah.
Camkan ancaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terhadap lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadapkeluarga (istri), “Tiga golongan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai lelaki dan ad-Dayyuts.” [HR. An-Nasa’i dinilai ‘hasan’ oleh syeikh Albani, lihat ash-Shahihah : 674]
Ada yang menanyakan apakah ad-Dayyuts (dayus) itu? Dayus adalah lelaki atau suami yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya.
Jadi, mari berlomba menjadi suami yang shalih agar menjadi teladan bagi isteri, shalih agar mampu membagi ilmu kepada isteri dan membimbingnya menjadi bidadari-bidadari dunia yang shalihah.
Bersyukurlah bagi setiap lelaki yang memiliki isteri shalihah, sebab keberadaanya di sisimu sebagai wasilah dari Allah untuk menjadikanmu lebih shalih lagi.
Sumber SERAMBINEWS.COM -
Sumber SERAMBINEWS.COM -
No comments