Results for "Seputar Aceh"
Asal Mula Orang Aceh
Rupanya, ikhtiar pencarian asal-usul orang Aceh sudah sangat lama dilakukan, jika dibandingkan dengan munculnya perdebatan siapa yang paling Aceh, yang celakanya, adalah klaim pribumi di antara orang Aceh sendiri di pasca perang. Paling tidak, upaya itu sudah dilakukan oleh Snouck Hurgronje dan Denys Lombard. Hurgronje mencoba menelusuri dalam berbagai sumber tertulis, khususnya dari sajak-sajak kepahlawanan. Walau pada akhirnya, ia berkesimpulan masih belum menemukannya juga.

Orang Mante yang disebut-sebut oleh para informan sebagai manusia pertama di Aceh, ternyata mereka hanya ada dalam kisah-kisah lisan orang Aceh saja. Meski pun, bukan berarti mereka tidak ada. Namun, apa yang telah dilakukan oleh Hurgronje tetap saja memberikan pada kita sebuah gambaran yang samar-samar tentang asal-usul orang Aceh.

Lombard mendapat sumber lain, yakni mitos tentang asal-usul orang Aceh dari keturunan Imael dan Hagar. Kisah lainnya, berasal dari keturunan pangeran  Campa yang terusir oleh kekuatan politik dari Vietnam, yang mencari perlindungan ke Aceh.  Apalagi menurut Cowan, ada kemiripan antara budaya Campa dan Aceh dalam hal persajakan.

Hal itu ada benarnya jika dipertimbangkan temuan Graham Thurgood tentang adanya relasi antara bahasa Aceh dengan rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Aceh termasuk ke dalam kelompok Chamic bersama dengan bahasa bangsa-bangsa di wilayah Indocina.

Kalau bahasa Melayu bersama bahasa Tamiang, Minangkabau masuk kelompok Malayic. Sedangkan bahasa Karo-Batak, termasuk kelompok Batak bersama bahasa Alas dan Kluet. Sedangkan Gayo tersendiri (yang masih dalam pertanyaan Thurgood), tapi menurut Giulio Soravia yang meneliti bahasa Alas bahwa sangat dekat hubungannya dengan bahasa Gayo dan Karo-Batak. Kesemua itu termasuk dalam Malayo-Polynesia Barat.

Penjelasan Thurgood itu menimbulkan pertanyaan, mengapa justru bahasa Melayu yang menjadi utama dalam komunikasi, bukannya bahasa Aceh itu sendiri? Jelas, bahasa Melayu sebagai lingua franca Dunia Melayu –yang termasuk Aceh di dalamnya. Artinya, untuk kepentingan komunikasi yang lebih luas (kosmopolit) antara orang Aceh dengan orang bukan Aceh. Lalu, dalam lingkungan Aceh sendiri dipakai sebagai media penulisan, pendidikan dan seterusnya. Jika kita mempertimbangkan fenomena ini, maka Aceh pada saat itu berada di dalam Dunia Melayu, bersama berbagai bangsa lainnya. Terlihat, cara pandang orang Aceh pun sudah keluar, kosmopolit (maka butuh bahasa Melayu), bukannya ke dalam, domestik (yang cukup dengan bahasa Aceh).

Kembali ke soal asal-usul orang Aceh, jika kita mempertimbangkan sejarah yang terkait dengan; dan bahasa (dan budaya) Aceh yang serumpun dengan Indocina,  maka unsur utama orang Aceh adalah dari Indoncina. Sementara budaya dan dinamika politik di kawasan itu, dalam periode tertentu menurut Groslier, pernah sangat dipengaruhi oleh Cina dan India secara paralel. Bila Cina dengan jalan penaklukan, maka India dengan jalan non-kekerasan. Dan, perjalanan Karl May juga telah menjelaskan bahwa hingga akhir abad 19, ada komunitas Kong Hu Cu dan rumah ibadatnya di pedalaman Aceh.

Hal yang agak pasti, Aceh terbentuk secara politik, maka sebutan orang Aceh, sejalan dengan kemunculan Kesultanan Aceh itu sendiri, yakni sekitar pertengahan abad 16. Karena Ali Mughayat Syah baru menundukkan Samudra Pasai pada 1524. Artinya, Aceh sebagai teritorial belum sempurna, dan juga berarti Aceh sebagai bangsa belum muncul.

Pertama kali, Hurgronje berpedoman dari pendapat Tgk Chik Kutakarang yang menyatakan orang Aceh berasal dari Arab, Persia (Iran) dan Turki. Definisi itu disampaikan oleh Teungku, baik secara lisan maupun di dalam pamflet-pamflet politiknya, yang barangkali Hikayat Perang Sabilnya. Dan, hingga kini pun kita sangat mengenal Aceh merupakan akronim dari Arab, Cina, Eropa dan Hindu (India).

Mungkin pula, apa yang disampaikan oleh Tgk Chik Kutakarang mewakili gambaran tentang asal-usul elite Aceh, bukan untuk lapisan sosial bawah. Apalagi, menurut penglihatan Hurgronje bahwa keluarga terkemuka, para aulia, para ahli hukum, saudagar besar, syahbandar, penulis, orang kepercayaan raja, bahkan raja-rajanya sendiri sebagian besar, kalau bukan semua, adalah berasal dari keturunan asing.

Sedangkan untuk lapisan bawah, barangkali unsur Melayu yang tidak begitu dirincikan lebih lanjut oleh Hurgronje. Mereka terkait dengan sistem perbudakan yang berlaku di Aceh pada periode itu. Orang Aceh lapis bawah terdiri dari unsur Nias, Batak, Cina dan Abesinia (Ethiopia). Baru pada generasi berikutnya –setelah menjadi manusia bebas dan perkawinan silang, mereka  dapat dikatakan sebagai orang Aceh.

Budak asal Nias (Nieh) dianggap lebih baik daripada Batak. Sedangkan, budak Cina melambangkan tingkat sosial yang tinggi tuannya karena mereka berkedudukan sebagai gundik. Sedangkan budak Abesinia (Abeusi) menjelaskan bahwa tuannya telah pergi ke Mekkah. Relasi perbudakan menjelaskan status sosial.

Untuk hal asal-usul strata bawah ini perlu adanya pengkajian yang lebih lanjut lagi, terutama tentang sejarah strata sosial yang disebut Lamiet. Sebab, jika merujuk pada Takeshi Ito, budak-budak itu ada juga yang didatangkan (impor) dari Bengal, Kalinga dan pantai Coromandel. Mereka adalah bagian dari sistem perdagangan barter. Kesultanan Aceh, khususnya di masa Iskandar Muda, mengekspor gajah dan mengimpor budak.

Unsur Melayu dari Bugis dan Jawa sangat sedikit disinggung. Untuk unsur Jawa telah ada dalam Hikayat Aceh. Pertama, kita bisa mempertimbangkan kehadiran orang Jawa dalam acara Sultan Zainal Abidin: “Dan menjuruh Djawa bermain tombak dan bermain wajang dan gender dan orang bertandak dan mengigal dan netiasa menjuruh orang bernjanji dan berharbab dan ketjapi dan berbangsi dan serba bagai permainan.” Kedua, dari keberadaan Kampung Jawa: “Maka Pantjagahpun bangkit dengan segala angkatan itu lalu ilir* ke Kampung Djawa jang bernama Bandar Ma’mur itu.”

Akronim Aceh itu, kalau dilihat dari asal-usul nama Aceh tentunya tidak dapat dibenarkan, tapi dapat dipakai sebagai acuan untuk menemukan unsur-unsur darah asing di Aceh. Hindu, atau India, lebih tepat lagi Kling, merupakan salah satu unsur darah orang Aceh. Bahkan Kleng menjadi simbol karakter sosial yang mana individu itu adalah ureueng meudagang (orang asing, orang yang mobilitasnya tinggi). Lombard mengatakan di Aceh ada evolusi dari pengaruh Hinduisasi menjadi Indianisasi.

Hal ini bisa kita rujuk pada artikel Y. Subbarayalu tentang penemuan prasasti tahun 1088 M di Barus. Prasasti bertulisan bahasa Tamil itu sama dengan tulisan pada prasasti abad 11-12 M dari Dinasti Cola di Tamil Nadu. Hal ini mengingatkan kita pada Perang Cola I (1030) di masa Lamuri  (900-1513).

Prasasti menyebutkan istilah komunitas “seribu lima ratus”, yang berasal dari India Selatan. Istilah senada kita kenal dalam katagori sosial yang muncul di masa Kesultanan Aceh, yakni kawom Lhee Reutoih, yang merupakan salah satu dari empat komunitas yang ada pada masa kesultanan dalam periode itu.

Prasasti itu juga memberikan penjelasan bahwa Barus telah menjadi pusat perdagangan antar bangsa, dan telah terbentuk koloni Tamil yang bermukim secara permanen dan semi permanen. Hal ini sejalan dengan teori Groslier tentang penyebaran pengaruh India melalui perdagangan. Pengaruh ini di Aceh, sejalan dengan penamaan perkampungan di masa kesultanan, seperti kampung Jawa, kampung Pande, dan lainnya di seputar ibukota yang berevolusi ke arah spesialisasi menurut profesi pemukimnya.

Bagaimana dengan unsur Eropa dan Arab dalam darah orang Aceh? Untuk unsur Eropa, orang sering merujuk pada keturunan Portugis di Lamno. Selebihnya gelap, atau mungkin hanya kasus-kasus invidual yang merupakan tawanan perang yang dapat pembebasan setelah masuk Islam dan melakukan perkawinan dengan pribumi.

Perihal unsur Arab, sekalipun belum dibahas, orang telah berkesimpulan pasti ada dalam darah orang Aceh. Van den Berg, ketika mengkaji tentang Orang Arab di Nusantara dan diterbitkan pertama kalinya pada 1886, hanya sedikit menyinggung tentang orang Arab di Aceh. 

Hal yang pasti sejak muncul hubungan dengan dunia atas angin di abad pertengahan, maka Aceh menjadi tempat perhentian pertama pelayaran orang Arab asal Hadramaut ke Nusantara. Rute mereka dari al-Mokalla atau asy-Syihr, Bombay, Ceylon, Aceh, Palembang, Pontianak dan Semenanjung Malaka (khususnya Singapore). Namun di Aceh, mereka tidak membentuk koloni, melankan menyebar ke seluruh Aceh. Lain halnya dengan di tempat lain, seperti di Palembang yang terbentuk koloni Arab yang besar.

Pengaruh Arab dalam politik Aceh sangatlah besar. Namun, sebelum kemunculan Habib Abd ar-Rahman bin Muhammad az-Zahir yang masuk ke Aceh dari Malaka pada 1864 dan keluar pada 1878, maka jarang ditemukan tokoh penting yang dari namanya berasal dari Hadramaut. Kata Berg, orang Arab di Aceh tidaklah sebagaimana kegemaran di lain tempat yang jarang menggunakan gelar Habib. Di tempat lain, mereka sering menyebut dirinya sebagai sayid yang menjelaskan keturunan dari al-Husain, atau syarif untuk menunjukkan sebagai keturunan cucu Nabi Saw dari al-Hasan.

Kalaulah demikian kisah-kisah yang dapat ditemukan tentang asal-usul orang Aceh, maka barangkali kita bisa mengatakan, bahwa manusia Aceh adalah polietnis yang terdiri dari para imigran yang datang bergelombang waktu ke daratan yang kemudian disebut Aceh. Jadi Aceh adalah kawasan melting pot, yang dihuni oleh manusia Kreol yang karena sudah berbilang waktu menjadi manusia hibrida, yang dengan sendirinya mengkonstruksi budaya hibrida.

Begitulah, bahwa orang Aceh bukanlah dikonstruksi oleh satu ras maupun etnis, karena mereka dikonstruksi oleh kekuatan politik yang muncul dari kesadaran politik para manusia kreol abad 16-17 untuk menata para pemukim menjadi sebuah warga bangsa. Sedangkan dalam konteks politik kekiniannya, maka orang Aceh adalah sebuah bangsa multikultural yang tanpa negara. 

Penulis oleh Otto Syamsuddin Ishak, Modus Aceh.


Readmore: http://www.atjehcyber.net/2011/06/asal-muasal-ureung-aceh.html#ixzz4d52QbN3f 
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID 

INFOKOM IPDJ 02 April 2017
Objek Wisata di Aceh Barat
Tempat Wisata - Banyak terdapat objek wisata di Acehbagian Barat ini. Meulaboh adalah Ibu Kotanya. Menurut HM. Zainuddin yakni seorang sejarawan dalam bukunya mengatakan bahwa kata “Meulaboh” merupakan pemberian dari orang-orang Minang, menurutnya orang Minang pernah berlabuh di Teluk Pasi Karam, mereka bersepakat untuk berlabuh dengan mengatakan “disikolah kito berlaboh”. Karena itulah dari versi tersebut, sejak kedatangan orang Minang Negeri pasi Karam kemudian dikenal dengan nama Meulaboh, yakni dihubungkan dengan kisah berlabuhnya pendatang dari minangkabau tersebut. Salah satu daerah terparah akibat bencana alam yang terjadi pada 26 Desember tahun 2004 silam tak lain merupakan daerah Meulaboh yaitu terkena Gempa dan Tsunami Samudra Hindia. Beberapa Objek wisata yang akan kita kenal di Kabupaten Aceh Barat antara lain:

Pantai Suak Ribee
Di Pesisir Kota Meulaboh Kabupaten Aceh Barat terdapat tempat rekreasi pantai yang sangat indah, pantai tersebut adalah Pantai Suak Ribee. Pantai ini biasanya ramai dikunjungi  pada saat disore hari dan juga pada saat hari libur atau akhir pekan, mulai dari berbagai kalangan baik orang dewasa, anak remaja, maupun anak remaja. Pantai ini lebih indah dan menarik sebelum terjadinya bencana tsunami. Ada terdapat disepanjang pinggiran pantai pohon cemara dan kelapa yang tumbuh disana. Fasilitas tempat peristirahatan juga tersedian di Pantai seperti café-café yang berjejer disepanjang jalan. Ketika sore harilah pemandangan yang membuat anda takjub yaitu ketika matahri tenggelamdi saat senja dan merasakan sejuknya angina yang sepoi-sepoi.
Pantai Suak Ribee
Pantai Lhok Bubon
 

Pantai ini terletak di Desa Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Untuk menuju ke Pantai Bubon ini jarak tempunya sekitar 8 kilometer dari Kota Meulaboh. Tempat ini merupakan tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan. Selain sebagai tujuan pariwisata, pantai ini menjadi lahan perekonomian masyarakat di sekitar, karena Pantai Lhok Bubon dikenal sebagai daerah penghasil makanan laut. Banyak pengunjung yang datang ke pantai ini selain menikmati indahnya alam pantai juga untuk menikmati segarnya makanan laut disana. 
Pantai Lhok Bubon
Pantai Batee Puteh
Adalagi pantai yang lain di kabupaten Aceh Barat yaitu Pantai Betee Puteh. Pantai ini dapat ditempuh dari Kota Meulaboh dengan panjang perjalanan 3 kilometer. Pantai Batee Puteh ini juga sering ramai dikunjungi oleh warga terutama ketika saat liburan untuk berenang ataupun menikmati indahnya pemandangan yang memiliki pasir yang putih dan air yang bersih. Objek wisata ini sangat cocok bagi keluarga. 
Pantai Batee Puteh
Pantai Pusong Sangkalan
 Pantai Pusong ini merupakan pantai yang letaknya langsung berhadapan dengan Laut Samudera Hindia. Karena dengan jarak bibir pantai 1 kilometer dengan Samudera Hindia terdapat Pulau Gosong, sehingga pantai tersebut dikenal dengan nama Pantai Pusong. Sedangkan Sangkalan merupakan nama wilayah pemukiman pantai itu berada. Pantai ini juga dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Pantai Bali. Meski nama tersebut tidak resmi tapi menurut mereka Pantai Pusong ini tidak kalah indahnya dengan Pantai di Bali. 
Pantai Pusong Sangkalan
Dari kota Meulaboh dapat ditempuh sekitar 3 kilometer. Pamandangan dipantai ini begitu asri dan bersih serta memiliki pasir yang bersih tapi agak kasar. Pantai ini juga memiliki gelombang ombak yang besar sehingga tempat ini sangat asyik dan menantang untuk peselancar. Hamparan laut yang biru membuat pengunjung yang datang betah untuk berlama-lama disana memandang indahnya lautan luas. Apalagi ketika disenja hari anda dapat menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam di Pantai Putama di Pusong.
Banyak wisatawan dari mancanegara yang datang berkunjung untuk bermain selancar serta berjemur ria dengan memakai bikini yang tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia terutama di Aceh yang menjunjung tinggi ajaran Islam. Sehingga masyarakat disana tidak menginginkan Pantai Pusong Sangkalan dijadikan sebagai tempat wisata seperti di Pantai Bali yang sangat bebas dan merusak tatanan budaya setempat.

Pantai Lanaga
Pantai ini terletak di Desa Peunaga, Kabupaten Aceh Barat. Jika anda dari pusat Kota Meulaboh butuh jarak tempuh sekitar 5 kilometer untuk sampai ke pantai ini. Keindahan akan panoramanya membuat kawasan ini sering dikunjungi wisatawan. Ada acara perlombaan perahu dengan didesain unik dan menarik yang sering diadakan di pantai ini. Sedangkan ada aktivitas olahraga yang disediakan seperti Jet Sky dan lain sebagainya.
 
Pantai Lanaga

Pantai Cemara Indah
Pantai Cemara Indah merupakan pantai yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon cemara. Tempat wisata ini adalah salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi warga Aceh di bagian Aceh Barat. Apalagi ketika musim libur dan akhir pekan, pantai ini juga banyak didatangi dari masyarakat luar. Tempat wisata yang satu ini sangat cocok bagi rekreasi keluarga, karena ada terdapat Taman Rekreasinya. Pantai Cemara Indah ini masih terus dikembangkan dan sedang dalam tahap pembangunan. Fasilitas-fasilitas seperti pelayanan sarana air bersih, listrik dan telepon sudah ada disini, bangku taman, warung makan, tempat permainan anak-anak, lapangan olahraga dan musholla juga telah tersedia.
Pantai Cemara Indah
Masjid Agung Meulaboh
Masjid Agung Meulaboh ini terletak di Pusat Kota Meulaboh yakni di Jalan Imam Bonjol, Kabupaten Aceh Barat. Masjid ini mudah dijangkau karena letaknya berada di Pusat Kota, baik dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun dengan kendaraan umum. Masjid ini merupakan Masjid Kebanggaan di Kabupaten Aceh Barat yang dibangun dengan arsitektur yang indah, dengan kubahnya berwarna dominan terang. Wisatawan lokal maupun asing banyak berkunjung ke masjid ini untuk beribadah ataupun hanya menikmati keindahan arsitektur masjid ini.
Masjid Agung Meulaboh
Makam Pahlawan Nasional Teuku Umar 
Salah satu objek wisata sejarah yang bisa anda kunjungi di Kabupaten Aceh Barat ini yakni Makam Pahlawan Nasional. Makam ini terletak di Desa Meugo Rayeuk, Kabupaten Aceh Barat. Untuk mencapai ke tempat wisata ini dari Pusat Kota Meulaboh butuh jarak tempujk sekitar 35 kilometer. Bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.  Di kawasan Makan Teuku Umar juga terdapat kawasan Hutan Lindung. Ada terdapat pohon besar yang dapat mengeluarkan air tiada hentinya dan bisa diminum oleh siapa saja. Banyak wisatawan lokal ataupun mancanegara yang datang untuk melihat tempat wisata sejarah ini. Kawasan Makam Teuku Umar sangat aman, nyaman dan sejuk dengan udara yang segar dan masih sangat alami.
Makam Teuku Umar





Sumber Informasi : 
http://www.kebudayaanindonesia.com/2014/10/objek-wisata-kabupaten-aceh-barat.html

INFOKOM IPDJ
Sejarah Bireuen dan Asal Usul Julukan Kota Juang
Bireuen—Julukan Kota Juang yang ditabalkan untuk Kabupaten Bireuen menarik untuk ditelusuri asal usulnya. Terlebih masih banyak orang yang tidak mengetahuinya. Bahkan mereka yang mengaku orang Bireuen sekali pun.
Tgk Sarong Sulaiman, seorang pelaku sejarah dan pejuang yang sekarang berusia 110 tahun, yang berdomisili di Desa Keude Pucok Aleu Rheng, Peudada Bireuen, saat ditemui Narit di rumahnya, kelihatan masih sehat dan ingatannya pun masih kuat.
Menurut Kepala Badan Statistik (BPS) Aceh, Syeh Suhaimi kepada Narit, Tgk Sarong merupakan salah seorang pelaku sejarah yang masih hidup. “Beliau merupakan seorang pejuang kemerdekaan negara ini, bahkan terlibat langsung dalam masa pergerakan melawan penjajahan Belanda dulu,” kata Syeh Suheimi saat melakukan sensus penduduk di Bireuen beberapa bulan lalu.

Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh

Ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu, Kakek Sarong yang terlihat masih bugar dengan lancar menceritakan sejarah Aceh pada umumnya dan Bireuen khususnya. Tgk Sarong pernah menjadi komandan pertempuran Medan Area tahun 1946, yang saat itu diberi gelar Kowera (Komandan Perang Medan Area).
Ayah tiga anak dan sejumlah cucu ini,  pernah ditawarkan menjadi guru ngaji di Arab Saudi, ketika dirinya bersama istri menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 60-an. Namun, tawaran itu ditolaknya karena sayang pada sang istri yang harus pulang ke Aceh tanpa pendamping. “Itu romansa masa lalu. Tapi, di sini (Aceh-red) saya juga menjadi guru ngaji he he he…,” katanya sambil terkekeh
Menurut pelaku sejarah yang lancar berbahasa Arab dan Inggis ini, “Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh. Kala itu, orang Arab yang berada di Aceh mengadakan kenduri di Meuligoe Bupati sekarang. Saat itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebajikan saat menjamu pasukan Belanda. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun. Sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal,” kata pria berkulit sawo matang yang mengaku pernah jadi guru Bahasa Arab di sebuah sekolah di Aceh tempoe doeloe.
Dengan  penuh semangat, Tgk Sarong Sulaiman menceritakan, sebelum Bireuen jadi nama Kota Bireuen yang sekarang ini, dulu namanya Cot Hagu. Setelah peristiwa itulah, nama Cot Hagu menjadi nama Bireuen. “Jadi Bireuen itu bukan asal katanya dari bi reuweueng (memberi ruang/ lowong atau celah), tetapi, Birrun itulah asal kata nama Kota Bireuen sekarang,” kata pria yang mengaku pernah berhasil memukul mundur pasukan Kolonial Belanda, saat bertempur melawan penjajahan dulu.

Asal usul Julukan Kota Juang

Adapun mengenai Bireuen dijuluki sebagai Kota Juang, menurut keterangan para orang tua-tua di Bireuen, Bireuen pernah menjadi  ibukota RI yang ketiga selama seminggu,  setelah Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah dalam agresi Belanda. “Meuligoe Bupati Bireuen yang sekarang ini pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno,” kata almarhum purnawirawan Letnan Yusuf Ahmad (80), atau yang lebih dikenal dengan  panggilan Letnan Yusuf  Tank, yang berdomisili di Desa Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Narit berkunjung ke kediamannya sebelum almarhum dipanggil Yang Maha Kuasa.
Bahkan katanya, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen  khususnya, dalam mempertahankan kemerdekaan Republik ini, begitu besar jasanya. “Perjalanan sejarah telah membuktikannya. Di zaman Revolusi  1945, kemiliteran Aceh pernah dipusatkan di Bireuen,” paparnya bersemangat.
Saat itu, katanya, dibawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef yang berkedudukan di  Meuligoe Bupati yang sekarang, pernah menjadi kantor Divisi X dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef.  “Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai Kota Juang,” katanya.
Presiden Soekarno, lanjut Yusuf Tank, juga pernah mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, yang bermarkas di Kantor Divisi X di Meuligo Bupati Bireuen yang sekarang. “Bireuen pernah  menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta Ibukota RI yang kedua, kembali dikuasai Belanda. Kebetulan Presiden Soekarno juga berada di sana saat itu,menjadi kalang kabut. Akhirnya  Soekarno memutuskan mengasingkan diri ke Bireuen pada Juni 1948, dengan pesawat udara khusus Dakota.yang dipiloti Teuku Iskandar. Pesawat itu turun di lapangan Cot Gapu,” kisahnya sambil menerawang.
Saat itu Soekarno disambut para tokoh Aceh diantaranya, Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh,  Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat bahkan ratusan pelajar Sekolah Rakyat (SR) dan malam harinya diselenggarakan leising (rapat umum) akbar.
Dalam rapat itu Soekarno yang dikenal singa podium Asia dalam pidatonya membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen apalagi pada saat itu mengatakan bahwa Belanda telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara).
Setelah itu Kemiliteran Aceh, dari Banda Aceh dipindahkan ke Juli Keude Dua di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef dengan membawahi  Komandemen Sumatera, Langkat dan Tanah Karo. “Dipilihnya Bireuen sebagai pusat kemiliteran Aceh, lantaran Bireuen letaknya sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda  di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur (sekarang Sumut-red),” kisah Yusuf Tank.
Lalu Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank di bawah pimpinan dirinya, yang memiliki puluhan unit mobil tank hasil rampasan dari tentara Jepang. Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area dan juga di zaman Revolusi 1945,  Pendidikan Perwira Militer  (Vandrecht),  pernah dipusatkan di Juli Keude Dua sekarang ini. “Aceh yang tak pernah mampu dikuasai Belanda dan Aceh juga adalah daerah modal Indonesia,” katanya penuh emosi.
Setelah seminggu berada di Bireuen, kemudian Soekarno bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja (Banda Aceh) untuk mengadakan pertemuan dengan para saudagar Aceh di Hotel Atjeh, di sebelah selatan masjid Raya Baiturrahman.
Dalam pertemuan itu Soekarno ‘merengek’ kepada masyarakat Aceh untuk menyumbang dua pesawat terbang untuk negara. Siang itu Presiden Soekarno sempat tidak mau makan sebelum menadapat jawaban dari Tgk Daud Beureu’eh. Setelah berembug lagi para saudagar Aceh lalu diputuskan bersedia menyumbang dua pesawat terbang sebagaimana diminta Soekarno, lalu masyarakat Aceh dengan cepat mengumpulkan uang yang akhirnya mampu dibeli dua peswat yaitu Seulawah I dan Seulawah II.
Dua peswat itu juga merupakan cikal bakal lahirnya pesawat Garuda Indonesia Airways dan Radio Rimba Raya di Kawasan Kabupaten Bener Meriah. Radio Rimba Raya yang mengudara ke seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan beberapa bahasa asing juga merupakan cikal bakal RRI sekarang ini. “Dan itu juga bagian dari radio perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” pungkas mantan pejuang Letnan Yusuf Tank. (Narit / AM Gandapura)



Sumber : http://www.seputaraceh.com/

INFOKOM IPDJ
Kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam
Hai anak bangsa Indonesia, sudahkah kalian mengenali budaya dari daerah sendiri? Sebelum mengenali budaya dari negara lain, kenalilah dahulu kebudayaan indonesia. Baiklah, berikut ini adalah budaya dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam :
 (Sumber: id.m.wikipedia.org)


 1. Rumah Adat
Rumah adat Aceh dinamakan Rumoh Aceh. Rumah adat Aceh dibuat dari kayu meranti dan berbentuk panggung. Mempunyai 3 serambi yaitu Seuramoe Keu (serambi depan), Seuramoe Inong (serambi tengah) dan Seuramoe Likot (serambi belakang). Selain itu ada pula rumah adat berupa lumbung padi yang dinamakan Krong Pade atau Berandang.


2. Pakaian Adat

Pakaian adat yang dikenakan pria Aceh adalah baju jas dengan leher tertutup (jas tutup), celana panjang yang disebut cekak musang dan kain sarung yang disebut pendua. Kopiah yang dipakainnya disebut makutup dan sebilah rencong terselip di depan perut.
Wanitanya memakai baju sampai kepinggul, celana panjang cekak musang serta kain sarung sampai lutut. Perhiasan yang dipakai berupa kalung yang disebut kula, pending atau ikat pinggang, gelang tangan dan gelang kaki. Pakaian ini dipergunakan untuk keperluan upacara pernikahan.



3. Tari-tarian Aceh
a. Tari Seudati, berasal dari arab dengan latar belakang agama islam. Sebuah tarian dinamis penuh keseimbangan dengan suasana keagamaan. Tarian ini sangat disenangi dan terkenal di Aceh.

b. Tarian Saman Meuseukat, dilakukan  dalam posisi duduk berbanjar dengan ajaran kebajikan, terutama ajaran agama islam.

c. Tarian Pukat, adalah tarian yang melambangkan kehidupan para nelayan dari pembuatan pukat hingga mencari ikan.

d. Tari Rebana, merupakan tari kreasi yang menekankan pada keterampilan memainkan alat musik "rebana" dalam mengiringi gerak-gerak lincah khas Aceh. Tari ini biasa ditampilkan dihadapan tamu-tamu agung.


(Tari Saman, salah satu tarian Aceh)

4. Senjata Tradisional 
Senjata tradisional yang dipakai oleh penduduk Aceh adalah rencong. Wilahan rencong terbuat dari besi dan biasanya bertuliskan ayat-ayat Al Quran. Selain rencong, rakyat Aceh mempergunakan pula pedang dengan nama pedang daun tebu, pedang oom ngom dan reudeuh. Pedang daun tebu dipakai oleh pamglima perang dan reudeuh oleh para prajurit.

5. Suku 
Suku dan marga yang terdapat di Aceh antara lain : Aceh, Alas, Tamiang, Gayo, Ulu Singkil, Simelu, Jamee, Kluet, dan lain-lain.

6. Bahasa Daerah : Aceh, Alas, Gayo, dan lain-lain.

7. Lagu Daerah : Bungong Jeumpa,




Sumber Informasi : http://www.kebudayaanindonesia.com/2013/05/nanggroe-aceh-darussalam.html

INFOKOM IPDJ
Aceh Barat Susun Perda Larangan Bakar Sampah




Meulaboh (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mulai menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) larangan membakar sampah dan sanksi bagi pelanggar aspek pelestarian  lingkungan tersebut dengan denda Rp1 juta.

Kepala Satuan kerja Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PSPLP) Provinsi Aceh, Yenni Mulyadi di Meulaboh, Senin mengatakan setelah selesai penyusunan ditargetkan Perda itu diberlakukan pada awal 2017.

"Kalau di kota besar seperti Bandung itu kedapatan bakar sampah didenda Rp1 juta. Perda seperti itu mungkin saja diterapkan, tapi ada tingkatan sosialisasi dengan mengutamakan kearifan lokal,"katanya didampinggi Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Aceh Barat T Fuadi.

Hal itu disampaikan disela-sela Technical Meeting pendampingan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan sampah Kabupaten Aceh Barat oleh Satker PSPLP Provinsi Aceh di aula serbaguna Bappeda daerah setempat.

Yenni Mulyadi menyampaikan, lahirnya prodak tersebut berdasarkan hasil pengkajian Undang-Undang yang dibahas bersama stekholder terkait, seperti UU Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 dan petunjuk teknis Peraturan Menteri (Permen) PU Nomor 3 Tahun 2013.

Melalui adanya Perda pengelolaan dengan benar sehingga tujuan akhir dari program tersebut menjadikan pengelolaan sampah agar bermanfaat secara ekonomis bagi masyarakat dan daerah setempat, bukan lagi menjadi masalah.

"Kita harapkan sampah ini bukan menjadi masalah lagi bagi daerah, tapi menjadi sumber daya bermanfaat bagi perekonomian masyarakat. Upaya kita salah satunya membangun TPS3R untuk penanganan sampah, nanti tidak lagi semua sampah itu masuk TPA,"katanya.

Yenni Mulyadi menyebutkan, selain mendampingi pembentukan rancangan perda, Direktorat Pengembangan PLP Kementrian UPR juga akan segera membangun Tempat Pengelolaan Sampah Reuse Reduce Recycle (TPS3R).

Jelasnya, seiring bertambahnya penduduk di Aceh Barat, otomatis volume sampah itu semakin meningkat, karena itu program itu upaya antisipasi jangan sampai lebih cepat banyak sampahnya daripada infrastruktur terbangun.

"Sebelumnya sudah pernah dibangun dan tahun ini ada tambahan pembangunan TPS3R, karena itu kita ingin memperkuat kelembagaan di Aceh Barat. Salah satunya menyusun prodak Raperda untuk pengaturan kelembagaan infrastruktur agar lebih optimal lagi," katanya.

Regulator dalam pelaksanaan Perda tersebut adalah BLKH, peraturan itu disesuaikan melalui kearifan lokal terutama pihak yang menanggani operasional sampah apakah itu berupa Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD), ataupun terbentuknya UPTD khusus.

Diharapkan, keberadaan maupun meningkatnya volume sampah dapat dikelola dengan baik melalui pengurangan sampah (Reuse), penangganan kembali (Reduce) serta daur ulang (Recycle) sampah menjadi sumber daya menghasilkan secara ekonomi bagi masyarakat.

Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © 2016 ANTARA News Aceh



INFOKOM IPDJ 17 May 2016
Bus Rombongan Pengantin dari Aceh Besar Terbalik di Seulawah
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Bus Sempati Star yang sedang membawa rombongan pengantin dari Gampong Ie Alang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besartujuan Medan kecelakaan di lintas Seulawah, tak jauh dari Mako Brimob, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar.
Laporan dari relawan RAPI Aceh Besar di lokasi kejadian menyebutkan, musibah terjadi sekitar pukul 13.30 WIB ketika Jalan Nasional Banda Aceh-Medan di pegunungan Seulawah sedang diguyur hujan lebat. Sempati Star yang musibah dilaporkan BL 7773 AA.
Hingga setengah jam paska musibah, bantuan evakuasi korban masih berlangsung termasuk membebaskan setidaknya empat penumpang yang terjepit. Bantuan di lapangan melibatkan personel Brimob, masyarakat, relawan, dan aparat TNI/Polri.
Sejumlah ambulance dari PMI Aceh Besar, P2KK Dinkes Aceh, PMI Banda Aceh, BPBD Aceh Besar, dan peralatan SAR dari Kantor Basarnas Banda Aceh dilaporkan sudah di lokasi atau sedang dalam perjalanan. Belum diketahui berapa jumlah korban, baik luka berat dan luka ringan.
"Untuk sementara tidak ada laporan korban jiwa," lapor Ikbal, anggota BPBD Aceh Besar dari unsur RAPI.(*)

INFOKOM IPDJ 15 May 2016
Gafatar Masih Bermain di Aceh
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma ruf Amin (kanan) didampingi Ketua Komisi Fatwa Hasanuddin AF memberikan keterangan terkait Gafatar di Gedung MUI, Jakarta, Rabu (3/2). MUI menyatakan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sesat karena merupakan metamorfosis dari aliran Al Qiyadah-Al Islamiyah yang telah dinyatakan sesat dan Gafatar menganggap Ahmad Musadeq sebagai nabi terakhir. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./nz/16


Meski Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sudah lama difatwakan haram oleh Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh dan sejumlah tokohnya dijebloskan ke penjara, tapi organisasi ini masih mampu menarik simpatisan di Serambi Mekkah. Sejumlah warga Aceh yang menghilang diduga bergabung dengan organisasi yang didirikan Ahmad Musadeq itu. Beberapa di antara ‘korban’ malah nekat meninggalkan anak dan suami/istrinya. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan sudah memastikan 19 orang eks Gafatar Aceh berada di sana.
Mengapa mahasiswa dan kelompok intelektual tergolong rentan dipengaruhi untuk masuk organisasi tersebut? Serambi menurunkan laporan eksklusif tentang orang-orang yang hilang di Aceh, nama-nama anggota Gafatar Aceh yang sudah teridentifikasi, dan derita keluarga yang ditinggalkan, dalam laporan eksklusif berikut ini.
NAMIRA Fatya Alzikra (5) dan Hafizd Alislam (8), duduk bersila menatap televisi. Sesekali mereka tertawa sendiri. Kedua bocah anak pasangan Anwar MD-Cut Asmaul Husna ini asyik menonton film kartun sore itu. “Alhamdulillah, Namira sudah agak membaik,” kata sang ayah, Anwar MD, saat ditemui Serambi di rumahnya Desa Paya Cut, Peusangan, Bireuen, Selasa (2/2).
Mira—begitu ia biasa disapa--duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dia diantarkan sang ayah setiap pagi, sejak kepergian sang bunda, dua bulan lalu. Namun, akhir-akhir ini Mira jarang bersekolah. Kondisinya sakit-sakitan. Badannya jadi kurus kering. Seperti halnya anak yang lain seusianya, si bungsu ini tergolong manja. Hampir setiap kali makan disuapi sang bunda. Namun, sejak ibunya menghilang, Mira ogah makan. Demam bisa datang tiba-tiba. “Namira teuingat that keu mamak/Namira rindu sekali pada mama -red),” katanya saat ditanya Serambi.
Mira adalah korban hilang ibunda. Di Aceh, sudah tak terhitung kasus-kasus kehilangan serupa. Sebagiannya diduga bergabung dengan organisasi semacam Gafatar, namun sebagian lainnya tak terungkap sampai kini.
Di Aceh Barat, Adrian (45) dan anaknya Zahra (4,5), menghilang sejak Sabtu pekan lalu. Kepada istrinya, pria asal Bogor, Jawa Barat, ini meminta izin sejenak membeli jajan si anak. Namun, hingga hari ini Adrian tak pernah kembali.
Menurut istrinya, tidak ada yang aneh dengan ulah suaminya selama ini, kecuali kerap ikut pengajian sebagaimana dilakukan orang kebanyakan. Pengajian yang dilakukan sang suami hingga ke luar Aceh. Syukurnya, sang istri tak pernah tertarik ikut pengajian serupa, meskipun pernah diajak beberapa kali.


Di Aceh Besar juga ada laporan warga yang hilang, meskipun tidak ada jaminan mereka bergabung dengan Gafatar. Di Sibreh, Aceh Besar, beberapa waktu silam, seorang perempuan berinisial NZ (25) juga dilaporkan menghilang hingga kini.
NZ bekerja di sebuah sekolah unggul di Aceh Besar. Ia diterima karena tergolong pintar dan punya pengalaman di bidang pengelolaan sekolah berasrama. Gadis ini lulus setelah menyingkirkan belasan pendaftar lainnya saat sekolah itu membuka pendaftaran.
“Kemudian, setelah enam bulan bekerja di sini, dia mulai tidak fokus bekerja karena selalu didatangi seorang lelaki yang belakangan mengaku calon suaminya. Melihat seringnya kunjungan lelaki itu, kami sempat menegurnya,” kata kepala sekolah kepada Serambi pekan lalu yang enggan dipublikasikan namanya.
Kata sang kepala sekolah, si lelaki tersebut mengaku calon istrinya, sehingga jadi alasan penyebab dia kerap menjenguknya. Kepala sekolah kemudian membatasi kunjungannya dan menyampaikan hal itu kepada keluarga NZ. “Ternyata orang tua NZ tak setuju jika gadis ini menikahi lelaki ‘misterius’ itu,” kata sang kepala sekolah.
Setelah berlangsung beberapa bulan, akhirnya NZ meminta izin berhenti dari pekerjaannya dengan alasan hendak menikah. “Jadi, dia hanya sekira enam bulan bekerja di sekolah ini. Dia minta izin baik-baik dengan alasan menikah. Mengenai apakah dia kemudian menghilang atau orang tuanya tak setuju atau ada hal lain menyangkut dia, saya tak tahu lagi. Yang jelas, sejak saat itu NZ tak pernah lagi tampak di Aceh Besar,” kata kepala sekolah tersebut.
Informasi yang beredar di masyarakat, perempuan tersebut hingga kini hilang tak tentu rimba bersama sang suami. Namun, hingga kini Serambi belum berhasil mengonfirmasi kepada keluarga terdekatnya.
Orang-orang misterius
Penelusuran Serambi, ada beberapa kasus penyusupan yang dilakukan pihak tertentu dan menyasar anak-anak sekolah, bahkan mengincar siswa di boarding school (sekolah berasrama). Orang-orang ‘misterius’ ini lebih mudah masuk ke sekolah tersebut ketimbang orang tua si anak. Rektor Universitas Malilussaleh (Unimal) Aceh Utara, Prof Dr Apridar mengaku pernah punya pengalaman buruk. “Saya pernah menemukan anak-anak di sekolah berasrama, justru disuruh buka jilbab beramai-ramai dan diajarkan berjoget di luar sekolah. Tentu tanpa sepengetahuan pihak sekolah,” kata Apridar kepada Serambi, Rabu (3/2)
Namun, Apridar tak mau menceritakan detail siswa sekolah mana yang luput dari pantauan guru sekolah. Apridar hanya berharap pengelola sekolah, khususnya yang berasrama, menjalin sinergitas dengan orang tua, sehingga kasus-kasus serupa tidak terulang.
Dikatakan Apridar, ada banyak tantangan bagi masyarakat Aceh yang bertekad mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya, baik dari internal maupun eksternal. “Dari internal, salah satunya, ya orang-orang Islam yang mengagung-agungkan kebebasan. Ini harus diwaspadai oleh semua pihak,” kata Rektor Unimal itu.
Dua pekan lalu pemerintah menghentikan kegiatan Gafatar dan memulangkan pengikutnya ke daerah masing-masing bukan hanya lantaran penistaan agama, tapi juga dianggap makar terhadap negara.
Gubernur Jawa Tengah bahkan sudah menyurati Pemerintah Aceh untuk segera menjemput eks anggota Gafatar asal Aceh yang saat ini berada di Boyolali. Jumlah mereka tak sedikit, bahkan bocah pun ada. (gun/bah/jaf/c38/edi/sak)


INFOKOM IPDJ 14 May 2016
Pelantikan Keuchik Gampong Bukit Jaya dan Gampong Buloh Aceh Barat
Pelantikan Keuchik Gampong Bukit Jaya (red.Gp. perbatasan Aceh Barat) dan Keuchik Gampong Buloh Oleh Bapak Bupati Aceh Barat Berjalan Dengan Baik, Dibawah ini beberapa dokumentasi Pelantikan Oleh Bupati Aceh Barat.



sumber : Facebook: Dedi Nibong Lapang









INFOKOM IPDJ 23 March 2016
Pemkab Aceh Selatan Sambut Baik Investor Listrik
Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menyambut baik kehadiran investor yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 180 MW, sehingga diharapkan bisa mengatasi krisis listrik bahkan surplus.

"Jika program ini benar-benar terwujud, maka Insyaallah Aceh Selatan akan surplus energy listrik pada tahun 2018. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyukseskan program tersebut," kata Bupati Aceh Selatan H T Sama Indra kepada wartawan di Tapaktuan, Selasa.

Menurut Bupati, terlaksananya program pembangunan proyek PLTA tersebut berkat kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Investor asal Tiongkok. Kemudian pihak investor menggandeng perusahaan swasta nasional atas nama PT Trinusa Energy Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.

"Pembangunan proyek PLTA berkapasitas 180 MW tersebut diperkirakan menyerap anggaran mencapai ratusan miliar rupiah yang sepenuhnya didanai oleh pihak investor," papar Bupati.

Bupati menjelaskan, pembangunan Gardu PLTA di kawasan Gunung Kecamatan Meukek bisa menyuplai arus listrik ke wilayah Kecamatan Meukek, Labuhanhaji, Sawang, Samadua dan Tapaktuan. Sementra Gardu PLTA yang dibangun di kawasan Gunung Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah akan menyuplai kebutuhan listrik untuk kawasan Kluet Raya, Bakongan Raya dan Trumon Raya.

"Saat ini investor Tiongkok dengan menggandeng PT Trinusa Energi Indonesia sedang melakukan survey di sejumlah sungai yang memiliki potensi untuk dibangun PLTA. Dalam waktu dekat, perusahaan swasta ini akan menggelar  kajian Analisis Masalah Dampak Lingkungan (AMDAL) serta mengajukan permohonan izin pinjam pakai lahan kepada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup," ungkapnya.

Bupati mengatakan, jika beberapa persyaratan tersebut sudah dikantongi, maka secara otomatis pembangunan PLTA di Aceh Selatan segera direalisasikan.

"Kami berharap semua pihak memberi dukungan demi kemajuan Aceh Selatan. Peluang dan kerjasama ini tidak mudah kita dapati sebab butuh perjuangan dan kerja keras bersama," imbuhnya.

Environmental and Forestry Advisor PT Trinusa Energi Indonesia, Ir Nur Hidayat menyatakan, pihaknya sedang melakukan survey dan menjalin kerjasama dengan PT PLN sebagai lembaga yang berkewenangan menjual listrik kepada konsumen.

INFOKOM IPDJ
BMKG Ingatkan Potensi Banjir Besar Landa Aceh
Meulaboh (ANTARA Aceh) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginggatkan potensi banjir besar akibat intensitas curah hujan lebat disertai badai berpotensi terjadi pada sebagian wilayah Provinsi Aceh pada Selasa (22/3).

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Meulaboh Edi Darlupi di Meulaboh, Selasa, mengatakan wilayah Calang, Meulaboh, Suka Makmue, Blang Pidie, Simeulue, Tapak Tuan, Singkil dan Subulussalam berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai guntur dan anggin kencang.

"Kami perkirakan sampai tiga hari kedepan ini potensi curah hujan masih terjadi, masyarakat kita inggatkan waspada banjir dan terjadi tanah longsor yang dapat menelan korban jiwa," katanya.

Dalam rilis prakirawan yang dikirimkan kepada wartawan dijelaskan, hujan lebat disertai badai guntur akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) cukup tinggi, kondisi tersebut juga berdampak terjadi banjir lebih meluas.

Faktor pemicu utama adalah adanya pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Aceh sehingga mampu menjadikan proses terbentuknya awan konvektif menjadi optimal yang berpotensi hujan lebat disertai guntur dan anggin kencang.

Akibat tingginya intensitas curah hujan dua kabupaten dilanda banjir luapan sungai karena tidak mampu menampung debit air hantaran dari wilayah hulu.

"Kondisi demikian masyarakat tetap harus waspada, karena apabila pertumbuhan awan Cb terus meningkat maka secara otomatis curah hujan tinggi berpotensi terjadi, ini dapat terjadi banjir," sebutnya.

Di Kabupaten Aceh Barat banjir menerjang empat kecamatan dan merendam puluhan rumah dan satu unit diantaranya hancur diseret arus milik Asnidar di Desa Kajeung, Sungai Mas namun tidak ada korban jiwa dalam bencana itu.

Selain itu longsor juga terjadi pada lima titik sehingga membuat jalan penghubung Meulaboh-Geumpang (Kabupaten Pidie) lumpuh total, meski demikian belum ditemukan ada korban jiwa dalam bencana alam kali ini.

"Kami dalam status siaga, semalam memang dapat info ada satu keluarga terseret arus dalam rumah, tapi korban jiwa nihil karena berhasil selamat, posisi banjir terjadi saat orang masih tidur,"kata Koordinator Basarnas Pos Meulaboh Rahmad Kenedy menambahkan.

Rahmad menyampaikan satgas SAR belum bergerak karena bencana alam ini masih ditangani Pemerintah Kabupaten masing-masing, pihaknya baru turun apabila ada laporan menyangkut korban jiwa dan bantuan evakuasi darurat.

INFOKOM IPDJ 22 March 2016
Banjir Aceh Barat Meluas Dua Rumah Tertimbun
Mobil menembus banjir di kawasan Gunong Mata Ie, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, Selasa, (22/3 ). Akibat intensitas curah hujan tinggi membuat ratusan rumah kawasan itu terendam dan satu unit ambruk, kemudian lima titik longsor menimbun badan jalan lintas Meulaboh-Tutut. (ACEH.ANTARANEWS.COM)



Meulaboh (ANTARA Aceh) - Musibah banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, terus meluas sampai tujuh kecamatan dan dua unit rumah warga ditemukan hancur tertimbun.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat Endy Alfian di Meulaboh, Selasa mengatakan, masyarakat Kecamatan Woyla Timur terpaksa mengungsi ke bangunan tempat evakuasi sementara (TES).

"Banjir dari empat kecamatan hingga posisi siang ini sudah menjadi tujuh kecamatan, korban yang sudah mengungsi baru di wilayah Woyla Timur karena posisi ketinggian air di sana semakin tinggi," katanya.

Dia menyebutkan, data sampai Selasa siang telah ditemukan dua unit rumah warga yang hancur tertimbun tanah longsor di Lhung Baroe, Kecamatan Sungai Mas, kemudian satu unit lainya rumah warga di Desa Kajeung, Kecamatan Sungai Mas.

Beruntung dalam kejadian tersebut tidak sampai memakan korban jiwa, namun harta benda warga tidak satupun dapat diselamatkan, kejadian ini diketahui setelah aparat desa setempat melaporkan kepada pihaknya.

"Yang dua unit rumah tertimbun longsor ini baru kita ketahui siang tadi setelah diaporkan geuchik (kepala desa), alat berat belum dapat dibawa kesana karena jalan masih ada yang belum dibersihkan semuanya dari jatuhan tanah longsor," sebutnya.

Sementara itu Camat Woyla Barat Drs Said Mahdali menambahkan, di kawasanya direndam ketinggian air banjir sudah mencapai 2,2 meter, masyarakat setempat masih bertahan menanti petunjuk selanjutnya untuk mengungsi.

"Sore ini masih lihat keadaan dulu, kalau hujan  tidak reda maka seluruh masyarakat mungkin akan mengungsi ke kawasan gunung, sebab kedalaman banjir di Woyla sudah mencapai 2 meter lebih,"katanya saat mengambil logistik di kantor Dinsos Aceh Barat.

Sementara itu Kepala Bidang Sosial pada Dinas Sosial Tenagakerja dan Transmigrasi (Dinsosnaketrans) Aceh Barat Jhon Aswir mengungkapkan, secara akurat pihaknya belum memegang data resmi terkait jumlah pengungsi yang membutuhkan logistik.

"Kami belum ada data akurat, tapi sudah kami sampaikan kepada seluruh camat untuk mengambil logistik di kantor apabila bisa diakses. Beberapa kecamatan telah mengambilnya saat ini dan bila lokasi yang sudah terkurung itu akan kami antar segera," katanya menambahkan.

INFOKOM IPDJ
Abdullah Puteh Deklarasi sebagai Calon Gubernur
Mantan gubernur Aceh, Abdullah Puteh didampingi mantan ketua DPRA, Tgk Muhammad Yus dan pimpinan Pesantren Darul Ihsan, Waisul Qarany Ali memberi santunan kepada anak yatim seusai Deklarasi Ambdullah Puteh sebagai bakal calon gubernur Aceh periode 2017-2022 di Kompleks Dayah Abu Krueng Kalee, Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Kamis (17/3/2016). SERAMBI/M ANSHAR

 
BANDA ACEH - Mantan gubernur Aceh, Ir Abdullah Puteh MSi (67), Kamis (17/3) pagi, mendeklarasikan diri maju sebagai calon gubernur Aceh periode 2017-2022 melalui jalur independen. Deklarasi itu berlangsung di Masjid Dayah Darul Ihsan Tgk Hasan Krueng Kale di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.
Hadir dalam deklarasi itu sejumlah tokoh, seperti Pimpinan Pesantren Tgk Hasan Krueng Kalee, H Waisul Qarani Aly, Thanthawi Ishak SH (mantan Sekda Aceh), Dr Muhammad Yus (mantan ketua DPRA), dan A Munir Aziz MPd (Sekretaris Forum Komunikasi Kabupaten/Kota Se-Aceh). Hadir juga Aminullah Usman MM (bakal calon Wali Kota Banda Aceh), Rusli Saleh (mantan kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh), Ir Zaidan (mantan Karo Pembangunan Setda Aceh), Syahril AK (pengusaha), dan imam masjid setempat. Kalangan pemuda juga banyak yang hadir, termasuk Ketua KNPI Aceh, Jamaluddin ST.
Di akhir kegiatan, Puteh menyerahkan santunan kepada puluhan anak yatim, dilanjutkan dengan makan bersama. Di sela-sela orasinya, Puteh mengungkapkan sejumlah alasan mengapa ia mencalonkan diri lagi untuk Aceh 1. Pertama, karena ada dukungan dari kerabat, tokoh masyarakat, dan kaum ulama. Di samping pengalamannya pernah menjabat gubernur Aceh dan menjadi deklarator pemberlakuan syariat Islam secara kafah di Aceh pada tahun 2002. “Alasan lainnya, apabila kebenaran dan kebaikan itu tidak diorganisir dengan sebaik-baiknya, maka kebenaran dan kebaikan itu akan dikalahkan oleh kebatilan dan kejahatan,” ujar suami Marlinda ini.
Selain itu, menurut Puteh, apabila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Ia juga menambahkan bahwa setiap jabatan atau kedudukan itu akan dipergilirkan oleh Allah Swt kepada orang yang disukainya.
Alasan terakhir pencalonannya adalah karena mencalonkan diri sebagai gubernur/wakil gubernur itu merupakan kewajiban bagi orang yang memiliki kemampuan.
Puteh menyatakan, sejak awal ia sudah berniat maju melalui jalur independen, sehingga ia tidak lagi menjalin komunikasi dengan partai politik. Bahkan relawannya hingga saat ini masih terus mengumpulkan fotokopi KTP dari pendukung.
Saat ditanya mengenai calon pasangannya nanti, Puteh mengaku sudah memiliki tiga nama yang sudah didekatinya. Ketiganya berasal dari kalangan yang beragam, yakni ulama, pengusaha, dan politisi.
“Salah satu calon wakil saya itu berasal dari barat selatan. Tidak ada yang berasal dari Aceh Timur. Namun, keputusannya siapa yang akan menjadi wakil akan saya umumkan pada akhir April nanti,” kata putra Idi, Aceh Timur ini.
Sehabis deklarasi dan santap siang bersama kemarin, Puteh terlihat buru-buru menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Ia harus terbang ke Jakarta dan seterusnya ke Yogyakarta karena ayah mertuanya meninggal di Yogya pada Rabu (16/3) pukul 17.30 WIB saat Puteh sudah berada di Banda Aceh. Mertuanya yang berpulang itu adalah ayahanda dari Dr Marlinda MSi, yakni Prof Dr Bambang Poernomo SH, salah satu pakar hukum Indonesia.(mun)


Sumber: Serambi Indonesia











INFOKOM IPDJ 20 March 2016
Tim Satpol PP Dikeroyok

BANDA ACEH - Sebanyak tujuh personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banda Aceh dikeroyok hingga babak belur bahkan ada yang pingsan oleh sekelompok orang yang belum teridentifikasi, Jumat (18/3) malam sekitar pukul 23.00 WIB di Jalan Diponegoro, Banda Aceh.
Berbagai isu merebak paska insiden itu, termasuk isu yang menyebut-nyebut ada seorang oknum anggota Polri dari kelompok penyerang. Terhadap isu adanya seorang oknum anggota Polda Aceh yang terlihat dalam kelompok penyerang, hingga tadi malam masih sebatas kesaksian yang belum bisa dipastikan. Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol T Saladin yang dihubungi Serambi untuk dimintai konfirmasi belum berhasil, termasuk ketika dihubungi melalui ponselnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, insiden itu terjadi di depan sebuah percetakan di Jalan Diponegoro, Banda Aceh. Sebanyak 20-an orang tak dikenal--layaknya geng motor--menyerang tim Satpol PP Kota Banda Aceh yang berjumlah tujuh orang.
Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Yusnardi SSTP MSi yang ditanyai Serambi, Sabtu (19/3) mengatakan, insiden itu terjadi saat anggotanya akan bergerak dengan mobil patroli seusai memantau pedagang pakaian di kawasan pusat kota tersebut. Namun saat beberapa petugas sudah naik ke bangku belakang mobil, si sopir tidak bisa membuka pintu depan karena terhalang sebuah sepeda motor yang diparkir berdekatan.
“Lalu petugas yang hendak menyopiri mobil menggeser sepeda motor supaya dia bisa masuk. Tiba-tiba seorang pria datang dan memarahi petugas dan terjadilah cekcok,” ujar Yusnardi.
Selanjutnya, kata dia, saat terjadi perselisihan, tiba-tiba puluhan orang tak dikenal yang mengenakan pakaian seperti geng motor mengepung mobil patroli Satpol PP.
Dia menambahkan, sejumlah orang tak dikenal itu langsung mengeroyok petugas Satpol PP. “Petugas kami diserang, dipukuli hingga babak belur. Petugas berusaha melawan namun jumlah mereka begitu banyak,” katanya.
Saat keadaan semakin kritis, tiba-tiba muncul regu Satpol PP lainnya dan kelompok penyerang berpakaian preman itu pun kabur. “Dua orang petugas kami terluka parah, bahkan salah satunya pingsan. Sedangkan lima petugas lainnya dalam regu pertama mengalami memar di sekujur badan,” jelasnya. Kedua petugas yang terluka parah itu dibawa ke RS Kesdam IM Banda Aceh.
Menurut Yusnardi berdasarkan keterangan korban pemukulan, seorang petugas mengenal salah seorang dari gerombolan itu sebagai anggota Polda Aceh.
Berkembang dugaan, aksi pengeroyokan itu adalah buntut dari insiden antara seorang anggota Polda Aceh dengan dan personel Satpol PP/WH Provinsi Aceh di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, Jumat (18/3) siang, sebelum shalat Jumat.
“Pada Jumat siang itu memang ada terjadi cekcok di RSJ. Namun saya tidak mau berandai-andai karena belum tahu apa motif penyerangan ini. Kami serahkan kasus ini sepenuhnya ditangani pihak yang berwajib,” kata Yusnardi. “Kami sudah laporkan kasus ini ke Polresta Banda Aceh,” pungkasnya.(fit)


INFOKOM IPDJ